Sosialisasi Politik Pada Masyarakat Totaliter


Dewasa ini partisipasi politik dan pengrekturan politik dapat dianalisa dari segi karakteristik sosial dan ciri-ciri lainnya dari pribadi yang terlihat ; akan tetapi hal tersebut hanya dapat dijelaskan dari segi-segi yang mereka anut.

Terlepas dari segi-segi yang mereka anut, nilai-nilai yang dianut dapat dianggap penting selama ia dalam bentuk ideologi; karena perkembangan nilai-nilai yang berkaitan dalam pola yang konsisten merupakan kekuatan bagi pembentukan tingkah laku sosial dan lebih lagi bagi pembentukan sikap politik tentunya dengan penerapan konsep-konsep sosialisasi politik baik itu pada masyarakat apapun.

Sosialisasi politik merupakan suatu proses bagaimana memperkenalkan sistem politik pada seseorang dan bagaimana orang tersebut menentukan tanggapan gejala-gejala politik. Sosiologi politik ditentukan oleh lingkaran sosial, ekonomi, dan kebudayaan dimana individu berada; selain itu juga ditentukan oleh interaksi pengalaman-pengalaman serta kepribadiannya.

V. I Lenin pada Kongres Pan- Rusia mengatakan bahwa sosialisasi politik  hanya dengan jalan membentuk kembali secara radikal, ajaran, organisasi, dan pendidikan anak-anak muda, sehingga kita akan  mampu menjamin bahwa hasilnya akan merupakan kreasi dari suatu masyrakat yang tidak akan sama dengan masyarakat yang lama .

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu totaliter dan masyarakat totaliter?

2. Bagaimana sosialiasi politik dalam masyarakat totaliter?

BAB II
Pembahasan

 

2.1 Pengertian Totaliter dan Masyarakat Totaliter

Istilah totaliter berasal dari bahasa Latin totus, yang berarti seluruh atau utuh. Totaliter ini dapat diartikan sebagai bentuk pemerintahan dengan kekuasaan mutlak negara terhadap hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat. Kendali pemerintahan biasanya diserahkan kepada satu partai politik dan umumnya dipimpin oleh seorang diktator.

Menurut Franz magnis-Suseno, totaliterisme merupakan istilah ilmu politik untuk menyebut gejala: Negara Totaliter. Negara totaliter adalah sebuah sistem politik yang, dengan melebihi bentuk-bentuk kenegaraan despotik tradisional, secara menyeluruh mengontrol, menguasai dan memobilisasikan segala segi kehidupan masyarakat.

Dalam sistem pemerintahan totaliter, hak individu bioleh dikatakan tidak ada. Individu dipandang sebagai hamba negara yang tidak memiliki kebebasan memilih atau bersuara. Pada umumnya peprintahan yang berkuasapun jarang memberi kesempatan kepada masyarakat atau kelompok-kelompok untuk berkumpul, seperti serikat buruh, partai politik, dll.

Rezim totaliter dapat disamakan dengan rezim tradisional pra-demokrasi yang otoriter atau otokratis. Pemerintah otoriter cenderung mempertahankan kekuasaan dari satu orang saja serta cenderung mempertahankan struktur sosial tradisional dan bekerja melalui garis wewenang yang ada. Yang umum terjadi dalam pemerintahan totaliter, dalam upaya menindas atau mengintimidasi individu dan atau kelompok lawan, biasanya mereka menggunakan tatktik teror yang dilakukan oleh tentara atau polisi. Dalam negara yang totaliter, media masa hanya berfungsi sebagai alat propaganda bagi penguasa.

Sebutan totaliter diberikan karena seluruh aspek kehidupan tiap individu harus sesuai dengan garis atau aturan negara, hal ini diperlukan untuk tercapainya tujuan negara, tujuan bersama. Jerman di bawah Nazi misalnya sangat mengagungkan ras Aria, sebagai ras yang unggul di atas semua ras lain di dunia. Untuk mewujudkan hal ini, misalnya pada periode itu dilakukan pemurnian ras Aria di Jerman dengan upaya untuk menghapus ras lain (utamanya Yahudi). Juga dengan dalih untuk mempersatukan Jerman Raya, invasi dilakukan kenegara tetangga yang memiliki penduduk dari Ras Aria.

Pemerintahan Komunis juga kerap dicontohkan sebagai bentuk perwujudan totaliterisme, karena kewenangan negara untuk mengatur tiap sisi kehidupan orang perorang. Argumen pendukungnya adalah bahwa upaya perlawanan terhadap kelompok atau kelas yang berkuasa menuntut pembersihan terhadap keseluruhan tatanan budaya yang mendukungnya.

Bentuk pemerintahan yang mendasarkan diri pada ajaran suatu agama yang menyatukan otoritas politik dan otoritas spiritual punya potensi kuat menjadi negara otoriter. karena negara (sebagai otoritas politik sekuler dan spiritual) bisa mengatur setiap aspek kehidupan warganya

Ciri-ciri sistem politik totaliter antara lain adalah :

  1. Infrastruktur dan fasilitas pemerintahan dikendalikan secara terpusat. Kekuatan politik diperoleh dan dipertahankan melalui suatu sistem represiv yang menentang segala bentuk tentangan atau yang berpotensi yang menentang.
  2. Mengikuti prinsip-prinsip berikut : (a). aturan datang dari seseorang bukan dari hokum. (b). Pemilihan Umum bersifat kaku (sering kali orang bisa mengetahui siapa pemenangnya, bahkan sebelum pemilu itu berlangsung). (c). semua keputusan politis ditentukan oleh satu pihak dan berlangsung tertutup. (d). penggunaan kekuatan politik yang seolah-olah tidak terbatas.
  3. Pemimpin dipilih sendiri atau menyatakan diri. Jika ada pemilihan, hak kebebasan masyarakat untuk memilih cenderung tidak diacuhkan.
  4. Tidak ada jaminan kebebasan sipil, apalagi toleransi yang ingin menjadi oposisi.
  5. Tidak ada kebebasan untuk membentuk suatu kelompok, organisasi, atau partai politik untuk bersaing dengan kekuatan politik yang incumbent.
  6. Kestabilan politik dipertahankan melalui (a). kontrol penuh terhadap dukungan pihak militer untuk mempertahankan keamanan sistem dan kontrol terhadap masyarakat. (b). birokrasi dikuasai oleh orang-orang yang mendukung rezim. (c). kendali terhadap oposisi dari internal Negara. (d). pemaksaan kepatuhan kepada public melalui berbagai cara sosialisasi.

Totalitarisme adalah versi ekstrim dari sistem otoriterisme. Sistem totalitarisme dinilai memiliki karisma kepemimpinan yang tinggi dibanding sistem otoriterisme. Dalam hal peran kepemimpinan, sistem totalitarisme menjalankannya sesuai fungsi, berbeda dengan sistem otoriterisme yang menjalankan secara pribadi.

Masyarakat totaliter adalah sekumpulan kelompok dari suatu ras yang sudah diubah pola pikir dan ideloginya melalui doktrin-doktrin oleh seorang penguasa, dimana masyarakat itu menjadi subordinasi dari si penguasa sehingga jiwa mereka direbut, dituntun dan dikekang sesuai kebutuhan-kebutuhan negara tersebut.

2.2 Bentuk Sosialisasi Politik dalam Masyarakat Totaliter

Sosialisasi politik dalam masyarakat totaliter memiliki banyak cara dan metodenya. Contohnya di Negara Jerman pada masa kepemimpinan Adolf Hitler, sosialisinya yaitu  melalui pendidikan formal dan loyalitas pertama mereka adalah kepada negara, yang dipersonifikasikan oleh pemimpinnya ( fuhrer atau pemimpin ). dimana semua pemuda pada masa itu diasuh dan di dalam keluarga serta sekolah-sekolah, secara fisik, intelektual dan moral harus dididik dalam semangat Sosialisme Nasional lewat pemuda Hitler.

Pada tahun 1939, setiap anak diwajibkan menjadi anggota pemuda Hitler, dan setiap orang tua yang menolak indokrinasi tersebut dapat ditindak dengan jalan diambilnya anak-anak dari asuhan mereka.

Antara usia 6 sampai 10 tahun, anak-anak Jerman memperoleh latihan persiapan dalam hal sejarah perkemahan, atletik dan ideologi. Pada usia 10 tahun mereka di tes, dan bila cocok, anak laki-laki di tingkatkan ke junvolk, sedangkan anak perempuan ditingkatkan ke jungmadel. Dan pada saat itu mereka mengucapkan sumpah setia-patuh kepada Fuhrer. Pada usia 14 tahun anak laki-laki mulai memasuki pemuda Hitler, dan menerima instruksi sistematik dalam ideologi dan latihan fisik serta militer. Dan pada usia 18 tahun mereka masuk dinas kerja, disusul kemudian dengan dinas militer. Pola bagi anak-anak perempuan sama juga, akan tetapi mereka memiliki organisasi-organisasinya sendiri, yaitu jungmadle (dari usia 10 sampai 14 tahun), dan Bund Deutscher Madel (dari usia 14 sampai 21 tahun), yang kemudian disusul dengan dinas 1 tahun di bidang pertanian. Dan jika ada yang menentang dengan kebijakan tersebut maka akan di hukum mati.

Pola sosialisasi yang sama terdapat juga di Uni Soviet, dengan penekananya baik pada pendidikan formal maupun pada gerakan-gerakan pemuda. Semua pengajaran harus disesuaikan dengan ideoligi komunis, dan buku-buku teks digunakan sebagai saran-sarana instruksi politik.

Sosialisasi politik itu tidak dibiarkan menempuh jalannya sendiri, akan tetapi menjadi bagian terpadu dari sistem totaliter, merupakan sarana dengan mana rezim yang bersangkutan secara terang-terangan berusaha mengabadikan dirinya sendiri dan menjadi idiologi yang mendasarinya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Istilah totaliter berasal dari bahasa Latin totus, yang berarti seluruh atau utuh. Totaliter ini dapat diartikan sebagai bentuk pemerintahan dengan kekuasaan mutlak negara terhadap hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat. Kendali pemerintahan biasanya diserahkan kepada satu partai politik dan umumnya dipimpin oleh seorang diktator.

Masyarakat totaliter adalah sekumpulan kelompok dari suatu ras yang sudah diubah pola pikir dan ideloginya melalui doktrin-doktrin oleh seorang penguasa, dimana masyarakat itu menjadi subordinasi dari si penguasa sehingga jiwa mereka direbut, dituntun dan dikekang sesuai kebutuhan-kebutuhan negara tersebut.

Bentuk sosialisasi politik dalam masyarakat totaliter yaitu melalui pendidikan formal dan gerakan-gerakan pemuda. Semua pengajaran harus disesuaikan dengan ideoligi komunis, dan buku-buku teks digunakan sebagai saran-sarana instruksi politik.

DAFTAR PUSTAKA

Rush Michael,  Philip  Althoff,  Pengantar  Sosiologi Politik, diterjemahkan oleh Dr.

Kartini Kartono, Edisi 1-13, Rajawali Pers, Jakarta, 2008.

Arendt Hannah,  Asal-Usul Totaliterisme, jilid III Totaliterisme, diterjemahkan oleh

J.M Soebijanto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1995.

Http://berukbrewok.wordpress.com/2007/12/10/prinsip-totaliter/ Diakses  19  Maret 2012

Http://anneahira.com/sistem-politik-totaliter/ Diakses 19 Maret 2012

About Admin

Jangan Bicara Bukti, Biar Bukti yang Berbicara

Posted on June 5, 2012, in makalah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: