Gender


A. Wawasan Jender

1. Pengertian Jender

Kata “jender” berasal dari bahasa Inggris. Gender yang artinya “jenis kelamin”. Secara umum jender dapat diartikan suatu konsep yang dipergunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari segi sosial-budaya. Jender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non-biologis

2. Perbedaan Sex dan Gender

No

Perbedaaan

Gender

Sex

1.2.

3.

4.

Mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial-budaya.Berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis dan aspek-aspek non biologis lainnya.

Studi gender lebih menekankan kepada aspek maskulinitas atau feminitas.

Merujuk kepada proses pertumbuhan anak menjadi seorang laki-laki ataupun perempuan.

Mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi.Berkonsentrasi pada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi dan karakteristik biologis lainnya.

Studi sex lebih menekankan kepada perkembangan aspek biologis dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki dan perempuan.

Merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktifitas seksual seorang laki-laki maupun perempuan.

 

3. Identitas Jender

Identifikasi beban jender lebih dari sekedar pengenalan terhadap alat kelamin, tetapi menyangkut nilai-nilai fundamental yang telah membudaya di dalam masyarakat.

Dari segi masyarakat lingkungan budaya begitu seorang anak dilahirkan, maka pada saat yang sama ia memperoleh tugas dan beban jender (gender assignment). Jika anak itu mempunyai kelamin laki-laki maka ia dikonsepsikan sebagai anak laki-laki dan jika mempunyai alat kelamin perempuan maka ia dikonsepsikan sebagai anak perempuan.

Dari segi masyarakat lintas budaya, pola penentuan beban jender (gender assignment) lebih banyak mengacu kepada faktor biologis atau jenis kelamin.

 

B. Biologi, Jender dan Perilaku Manusia

1. Perbedaan Biologis antara Laki-laki dan Perempuan

No

Perbedaaan

Laki-laki

Perempuan

1.2.

3.

4.

5.

6.

Memiliki buah pelir (testis).Memproduksi hormon testosterone yang membawa sifat-sifat kejantanan sekaligus menentukan struktur organik laki-laki.

Mempunyai dua kromosom seksual yang berbeda yaitu X dan Y yang disebut heterogametic sex.

 

Memiliki 2 sel tubuh yang di identifikasi H-Y antigen dan H-X antigen

 

Komposisi kimia tubuh lebih kompleks seperti mempunyai suara yang lebih besar, berkumis, berjenggot, pinggul lebih ramping dan dada yang datar

Dapat memberikan pengaruh secara psikologis dan sosiologis.

 

Memiliki ovarium.Memproduksi hormon prolactin, extrogen, dan progesterone yang berpengaruh dalam pembentukan sifat-sifat dasar perempuan.

Mempunyai kromosom seksual yang sejenis yaitu XX yang disebut homogametic sex.

Hanya memiliki sel tubuh H-X antigen

Komposisi kimia tubuh kurang kompleks. Seperti suara yang bening, buah dada menonjol dan pinggul yang umumnya lebih lebar.

 

2. Implikasi Perbedaan Biologis Perilaku Manusia

Tentang kenyataan akan adanya perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan tidak ada ada perbedaan pendapat ilmuwan namun efek perbedaan yang banyak menimbulkan perbedaan.

Perbedaan anatomi biologis dan komposisi kimia dalam tubuh oleh sejumlah ilmuwan dianggap berpengaruh pada perkembangan emosional dan kapasitas intelektual masing-masing. Unger, misalnya mengidentifikasi perbedaan emosional dan intelektual antara laki-laki dan perempuan antara lain sebagai berikut

Laki-Laki (masculine)

Perempuan (feminim)

Sangat agresifIndependen

Tidak emosional

Dapat menyembunyikan emosi

Lebih objektif

Tidak mudah berpengaruh

Tidak submisif

Sangat menyukai pengetahuan eksata

Lebih aktif

Lebih kompetitif

Lebih terampil berbisnis

Lebih berterus terang

Penuh rasa percaya diri

Lebih banyak mendukung sikap agresif

Lebih ambisi

Lebih merdeka

Tidak canggung dalam penampilan

Pemikiran lebih unggul

Lebih bebas berbicara

Tidak terlalu agresifTidak terlalu independen

Lebih emosional

Sulit menyembunyikan emosi emosi

Lebih subjektif

Mudah berpengaruh

Lebih submisif

Kurang menyukai pengetahuan eksata

Lebih pasif

Kurang kompetitif

Kurang terampil berbisnis

Kurang berterus terang

Kurang rasa percaya diri

Kurang senang terhadap sikap agresif

Kurang ambisi

Kurang merdeka

Lebih canggung dalam penampilan

Pemikiran kurang unggul

Kurang bebas berbicara

Perbedaan anatomi tubuh dan genetika antara laki-laki dan perempuan didramatisi dan dipolitisir terlalu jauh sehingga seolah-olah secara subtansial perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

Anggaran bahwa laki-laki lebih kuat, lebih cerdas, dan emosinya leibh stabil; sementara perempuan lebh, kurang cerdas dan emosinya kurang stabil, hanyalah persepsi streotip jender.

C. Perspektif  Teori Jender

1. Teori Psikoanalisa/Identifikasi

            Diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Teori ini mengungkap bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas. Freud menjelaskan kepribadai seseoran tersusun di atas tiga struktur :

  1. 1.      Id

yaitu sebagai pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir termasuk nafsu seksual dan insting yang selalu agresif. Id  ibarat sumber energi yang memberikan dukungan kepada dua struktur lainnya. Id  bekerja di luar sistem rasional dan senantiasa memberikan dorongan untuk mencari kesenangan dan kepuasan secara biologis.

  1. 2.      Ego

yaitu bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari idEgo berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial. Ego membantu seseorang keluar dari berbagai problem subjektif individual dan memelihara agar bertahan hidup dalam dunia realitas.

  1. 3.      Superego

yaitu berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan. Superego juga mengingatkan ego agar senantiasa menjalankan fungsinya mengontrol id.

 

Menurut Freud, individu yang normal ialah ketika ketiga struktur tersebut bekerja secara proporsional. Jika salah satu diantaranya lebih dominan maka pribadi yang bersangkuta mengalami masalah.

Freud juga menyebutkan bawah perkembangan kepribadian seseorang terpengaruh oleh satu di antara apa yang disebut dengan “lima tahapan psikoseksual”. Pada setiap tingkat terdapat kepuasan seksual yang oleh Freud dianggap sebagai kepuasan insting seksual, dihubungkan oleh anggota badan tertentu yaitu :

  1. Tahap kesenangan berada di mulut (oral stage)

Yaitu terjadi sepanjang tahun pertama seorang bayi. Kesenangan seorang bayi ialah menghisap susu melalui mulutnya.

  1. Tahap kesenangan berada di dubur (anal stage)

Yaitu tahun kedua seorang bayi memperoleh kesenangan di sekitar dubur, yaitu ketika sang bayi mengeluarkan kotoran.

  1. Tahap kesenangan ketika mengidentifikasi alat kelamin (phallic stage)

Yaitu seorang anak memperoleh kesenangan erotis dari penis bagi anak laki-laki dan clitoris bagi anak perempuan

  1. Tahap remaja (talency stage)

Yaitu kelanjutan dari tingkat sebelumnya, ketika kecenderungan erotis ditekan sampai menjelang masa pubertas.

  1. Tahap puncak kesenangan terletak pada daerah kemaluan (gender stage)

Yaitu saat kematangan seksualitas seseorang.

2.  Teori Fungsionalis Struktural

Asumsi dari teori ini bahwa suatu masyarakat terdiri atas berbagai bagian yang saling mempengaruhi. Teori ini mencari unsur-unsur mendasar yang berpengaruh di dalam suatu masyarakat, mengidentifikasi fungsi setiap unsur, dan menerangkan bagaimana fungsi unsure-unsur tersebut di dalam masyarakat.

R. Dahrendolf , salah satu pendukung teori ini, meringkaskan prinsip-prinsip teori ini sebagai berikut:

  1. Suatu masyarakat adalah suatu kesatuan dari berbagai bagian.
  2. Sistem-sistem sosial senantiasa terpelihara karena mempunyai perangkat mekanisme kontrol.
  3. Ada bagian-bagian yang tidak berfungsi tetapi bagian-bagian itu dapat dipelihara dengan sendirinya atau hal itu melembaga dalam waktu yang cukup lama.
  4. Perubahan terjadi secara berangsur-angsur
  5. Integrasi sosial dicapai melalui persepakatan mayoritas anggota masyarakat terhadap seperangkat nilai. Sistem nilai adalah bagian yang paling stabil di dalam suatu sistem masyarakat.

Harmoni dan stabilitas suatu masyarakat menurut teori ini sangat ditentukan oleh keefektitas consensus nilai-nilai. Sistem nilai senantiasa bekerja dan berfungsi menciptakan keseimbangan (equilibrium) dalam masyarakat.

Dalam hal peran jender, pengikut teori ini menunjuk masyarakat pra-industi sebagai contoh, betapa masyarakat tersebut terintegrasi di dalam suatu sistem sosial. Laki-laki berperan sebagai pemburu (hunter) dan perempuan sebagai peramu (gatherer).

Talcott Parsons dan Bales, dua tokoh pendukung utama teori ini menilai bahwa pembagian peran secara seksual adalah sesuatu yang wajah. Suami-ayah mengambil perah instrumental (instrumental role), membantu memelihara sendi-sendi masyarakat dan keutuhan fisik keluarga dengan jalan menyediakan bahan makanan, tempat perlindungan, dan menjadi penghubung kelurga dengan dunia luar. Sementara itu, isteri-ibu mengambil peran peran ekspresif (expressive role), membantu mengentalkan hubungan, memberikan dukungan emsosial dan pembinaan kualitas yang menopang keutuhan keluarga, dan menjamin kelancaran urusan rumah tangga.

Ivan Nye membagi opini masyarakat terhadap fungsi dan peran suami-istri kepada lima kelompok, yaitu:

1. Segalanya pada suami

2. Suami melebihi peran istri

3. Suami dan istri mempunyai peran yang sama

4. Peran istri melebihi suami

5. Segalanya pada istri.

Menurut Lips ada beberapa unsure pokok di dalam teori fungsionalis struktural yang sekaligus menjadi kekuatan teori ini yaitu :

  1. Kekuasaaan dan status

yaitu dijelaskan bahwa laki-laki memiliki kekuasaan dan status lebih tinggi daripada perempuan. Dorothy Dinnerstein dan Nancy Chodorow mengemukakan bahwa relasi kuasa dan status ini dijadikan dasar dalam menentukan polas relasi jender.

  1. Komunikasi Non-Verbal

yaitu laki-laki lebih dimungkinkan untuk menegur sapa kepada perempuan daripada laki-laki. Karena perempuan dinilai memiliki kekuasaan yang tidak memadai maka laki-laki cenderung memandarng “rendah” terhadap perempuan.

  1. “Rape-Prone” dan “Rape-Free”

yaitu kejahatan seksual hanya dapat dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan, tidak sebaliknya

  1. Pembagian kerja

yaitu jika dalam masyarakat tradisional dikenal pembagian kerja secara seksual, laki-laki sebagai pemburu dan perempuan sebagai perngasuh, maka hal yang sama masih juga dijumpai dalam masyarakat modern. Misalnya di dalam dunia bisni, perempuan diarahkan sebagai sekretaris dan laki-laki pemimpin.

3. Teori Konflik

Asumsi dari teori ini bahwa dalam susunan di dalam suatu masyarakat terdapat beberapa kelas yang saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Siapa yang memiliki dan menguasai sumber-sumber produksi dan distribusi merekalah yang memiliki peluang untuk memajukan peran utama di dalamnya.

Marx dan Friedrich Engels mengemukakan bahwa perbedaan dan ketimpangan jender antara laki-laki dan perempuan, tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian dari penindasan dari kelas yang berkuasa dan relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga.

Dengan kata lain, ketimpangan peran jender dalam masyarakat bukan karena faktor biologis atau pemberian Tuhan (divine creation), tetapi konstruksi masyarakat.

Engels seolah-olah ingin mengatakan bahwa keunggulan laki-laki atas perempuan adalah hasil keunggulan kaum kapitalis atas kaum pekerja. Penurunan status perempuan mempunyai korelasi denga perkembangan produksi perdagangan.

4. Teori-teori Feminis

Pandangan feminis terhadap perbedaan peran jender laki-laki dan perempuan dapat dikatagorikan kepada tiga kelompok yaitu :

  1. Feminisme Liberal

Asumsi dari kelompok ini adalah semua manusia, laki-laki dan perempuan diciptakan seimbang dan serasi dan mestinya tidak terjadi penindasan antara satu dengan lainnya. Kelompok ini menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa hal, terutama yang berhubungan dengan fungsi reproduksi.

Kelompok ini membenarkan perempuan bekerja bersama laki-laki. Merka menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total di dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah.

  1. Feminisme Marxis-Sosialis

Kelompok ini berupaya menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antar kedua jenis kelamin itu sesungguhnya lebih disebabkan oleh faktor budaya alam.

Kelompok ini juga menolak anggapan tradisional dan para teolog bahwa status perempuan lebih rendah daripada laki-laki karena faktor biologis dan belakang sejarah.

  1. Fenimisme Radikal

Menurut kelompok ini bahwa perempuan tidak harus tergantung kepada laki-laki, bukan saja dalam hal pemenuhan kepuasan kebendaan tetapi juga pemenuhan kebutuhan seksual. Perempuan dapat merasakan kehangatan, kemesraan, dan kepuasaan seksual kepada sesame perempuan.

5. Teori Sosio-Biologis

            Teori ini dikembangkan oleh Pierre ban den Berghe, Lionel Tiger dan Robin Fox dan intinya bahwa pengaturan peran jenis kelamin dari “biogram” dasar yang diwarisi manusia modern dari nenek moyang primat dan hominid mereka.

Teori ini disebut “bio-sosial” karena melibatkan faktor biologis dan sosial dalam menjelaskan relasi jender. Kenyataan ini memainkan peran penting dalam suatu masyarakat. Masyarakat akan diuntungkan kalau laki-laki bertugas sebagai pemburu daripada perempuan. Mengandung,melahirkan dan menyusui adalah tugas perempuan yang tidak dapat digantikan oleh laki-laki.

Kenyataan ini dapat menguatkan anggapan bahwa faktor biologis berpengaruh pada perilaku manusia, khususnya masa-masa produktif setiap orang.

D. Jender dan Struktur Sosial

1. Peran Jender dan Status Sosial

Peran jender adalah ide-ide kultural yang menentukan harapan-harapan kepada laki-laki dan perempuan dalam berinteraksi antara satu dengan lainnya di dalam masyarakat.

Predikat laki-laki dan perempuan dianggap sebagai symbol status. Laki-laki diidentifikasi sebagai orang yang memiliki karakteristik “kejantanan” , sedangkan perempuan diidentifikasi sebagai orang yang memiliki karakteristik “kewanitaan”.

2. Pembagian Kerja secara Seksual

Pekerjaan yang diperuntukkan kepada laki-laki umumnya yang dianggap sesuai dengan kapasitas biologis, psikologis, dan sosial sebagai laki-laki yang secara umum dikonsepsikan sebagai oran yang memiliki otot lebih kuat, tingkat risiko dan bahayanya lebih tinggi karena berkerja di luar rumah dan tingkat keterampilan dan kerjasamanya di dalam kelompok masyarakat lebih tinggi.

Pekerjaan untuk perempuan adalah umumnya yang dianggap sebagai kapasitas biologisnya sebagai perempuan, yang secara umum sebagai orang yang lemah dengan tingkat mudah cenderung bersifat mengulang dan lebih mudah terputus-putus karena itu lingkah ketrampilan perempuan dianggap rata-rat lebih rendah disbanding laki-laki.

Dalam masyarakat misalnya urusan-urusan ekonomi dan politik secara ketat terorganisasi di bawah kaum laki-laik. Kaum perempuan disisihkan ke sektor domestik menyangkut urusan kerumahtanggaan.

Michelle Rosaldo dan Louise Lamphere mengidentifikasi pembagian kerja secara seksual berdasarkan ciri-ciri universal dalam berbagai kelompok budaya sebagai berikut :

  1. Masyarakat Pemburu dan Peramu
  2. Masyarakat Hortikultura
  3. Masyarakat Agribisnis
  4. Masyarakat Industri

3. Peran Jender dan Perubahan Sosial

Jender, sebagaimana halnya kelompok etnis, dalam banyak masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang menentukan status seseorang. Dapat dimaklumi bahwa persoalan jender berpotensi untuk menimbulkan konflik dan perubahan sosial, karena sistem patriarki yang berkembang luas dalam berbagai masyarakat menempatkan perempuan pada posisi yang tidak diuntungkan secara cultural, structural, dan ekologis. Perempuan di pojokkan kedalam urusan reproduksi seperti menjaga rumah dan mengasuh anak.

Menurut Johnson, ada beberapa hal yang dapat menjadi indikator penghambat perubahan sosial dalam kaitannya dengan tuntutan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan :

  1. Struktur sosial
  2. Perempuan sebagai kelompok minoritas unik
  3. Pengaruh mitos

KESIMPULAN

  1. Bahwa gender adalah suatu konsep yang dipergunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari segi sosial-budaya
  2. Gender dan sex sangatlah berbeda. Gender mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari sudut sosial budaya, namun sex dari anatomi biologis
  3. Perbedaan anatomi biologis dan komposisi kimia dalam tubuh berpengaruh pada perkembangan emosional dan kapasitas intelektual masing-masing baik laki-laki maupun perempuan.
  4. Beberapa teori yang sangat berpengaruh dalam menjelaskan perbedaan dan persamaan peran jender laki-laki maupun perempuan antara lain teori psikoanalisa/identifikasi, teori fungsionalis struktural, teori konflik, teori-teori feminis dan teori sosio-biologis.
  5. Predikat laki-laki dan perempuan dianggap sebagai symbol status. Laki-laki diidentifikasi sebagai orang yang memiliki karakteristik “kejantanan” , sedangkan perempuan diidentifikasi sebagai orang yang memiliki karakteristik “kewanitaan”.
  6. Dari segi masyarakat lintas budaya, pola penentuan beban jender (gender assignment) lebih banyak mengacu kepada faktor biologis atau jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan.

About Admin

Jangan Bicara Bukti, Biar Bukti yang Berbicara

Posted on March 6, 2012, in artikel, makalah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: