Dramaturgi Aliran Sesat


Menurut Goffman bahwa identitas manusia tidak stabil dan merupakan kejiwaan psikologi mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-rubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Dalam dramaturgi, interaksi sosial dimaknai dengan pertunjukan theater dan manusia adalah aktor yang berusaha melakukan sandiwaranya. Dalam mencapai tujuan tersebut, menurut konsep dramaturgi manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Disinilah dramaturgi masuk, bagaimana individu menguasai interaksi tersebut.

Jika diaplikasikan pada fenomena aliran sesat di Aceh, aktor yang melakoni drama adalah si penyebar. Penyebar adalah tokoh-tokoh intelektual yang kritis membuat doktrin-doktrin baru atas pemahamannya terhadap Al-Qur’an yang mengandalkan penafsiran-penafsiran logis dan mempertontonkan identitasnya di atas “panggung” lalu mengapresiasikannya.

Sang penyebar berpenampilan  sesuai dengan tujuan penyebaran ajaran sesatnya yang biasa dipakai oleh kaum muslim dan muslimah agar tidak mudah dikenali dan agar makin menarik di dalam menyampaikan isi pikiran si penyebar yang telah di rancang atau di naskahkah sedemikian rupa dengan menggunakan beberapa symbol yang memakai logika sesuai dengan kebutuhan si aktor.

Si penyebar sangat berusaha merayu masyarakat agar bisa menerima konsep-konsep ajaran yang dibawanya dan dia melirik mahasiswa/i yang labil dan alim, karena mereka sangat mudah dipengaruhi oleh dogma-dogma ajaran tersebut. Selain itu aktor juga memilih penonton yang memiliki masalah dengan financial, yaitu masyarakat miskin yang fakir akan landasan keislaman yang telah diorganisir sangat baik oleh si aktor. Tentunya dengan penggunaan dialog yang sangat baik agar dapat menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada pengikutnya melalui “pertunjukan dramanya”.

Selain itu setting penyebaran ajaran ini adalah secara tersembunyi, si penyebar memilih tempat-tempat yang di anggap strategis yang tidak diketahui serta dicurigai oleh masyarakat lain dan si penyebar dapat berkonsentrasi atas naskahnya serta agar penyebar mampu melakoni perannya se-objektif mungkin dan alamiah tentunya dengan langkah-langkah yang harus dijalani.

Si penyebar yang mempengaruhi dalam permainan ini mengambil aspek sosial psikologis si pengikutnya yang melingkupinya, sehingga para pengikutnya seolah-olah ter-hipnotis atau terbawa oleh kata-kata yang disampaikan oleh si penyebar tanpa adanya rasa melawan dan meninggalkan kesan yang baik pada pengikutnya.

Para pengikut ajaran ini pun menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi diri dengan masyarakat lainnya dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung pada mereka.

Dan di dalam sandiwara si penyebar akan mengubah permainannya sesuai kondisi yang berlangsung agar mereka terus dapat berdampingan dengan masyarakat lainnya tanpa tercium konsep sesat yang mereka bawa.

Dengan konsep dramaturgi dan permainan peran yang dilakukan oleh si penyebar, maka terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi antara si penyebar dan para pengikutnya yaitu dengan sikap, persepsi serta partisipasi pengikut yang merespon kepercayaan ajaran yang dibawa oleh si penyebar.

About Admin

Jangan Bicara Bukti, Biar Bukti yang Berbicara

Posted on April 25, 2011, in artikel. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. semakin banyak pihak yang ingin menggerus fondasi islam. semoga kita senantiasa berhati-hati..

  2. Aaamiiiin Ya Allah ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: