Keberadaan Etnis Tionghoa di Indonesia


ABSTRAK

Minoritas Tionghoa di Indonesia sering dianggap sebagai kelompok yang homogen, padahal mereka adalah kelompok yang heterogen. Namun, sebagai minoritas orang Tionghoa di Indonesia  masih sangat kentara. Secara kebudayaan, peranakan Tionghoa telah cukup berbaur akan tetapi mereka masih tidak diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Hal ini karena bangsa Indonesia diartikan oleh Negara secara sempit. Hanya pribumi yang bisa diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Padahal, pada masa lalu banyak pemimpin Indonesia yang pribumi berpendapat bahwa konsep bangsa itu adalah konsep budaya dan politik bukan ras.

Peninjauan sejarah pemikiran politik minoritas Tionghoa di Indonesia menunjukkkan bahwa persepsi orang Tionghoa tentang posisi mereka di Indonesia pun berubah sesuai dengan perubahan masyarakat  Tionghoa dan tuntutan zaman.

Kerusuhan-kerusuhan yang menimpa etnis Tionghoa antara lain pembunuhan massal di Jawa 1946-1948, peristiwa rasialis 10 Mei 1963 di Bandung, 5 Agustus 1973 di Jakarta, Malari 1974 di Jakarta, Kerusuhan Mei 1998 di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Solo ,dll. serta berbagai kerusuhan rasial lainnya.

Didirikannya sekolah-sekolah Tionghoa oleh organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) sejak 1900, mendorong berkembangnya pers dan sastra Melayu Tionghoa. Maka dalam waktu 70 tahun telah dihasilkan sekitar 3000 buku, Dengan demikian komunitas ini telah berjasa dalam membentuk satu awal perkembangan bahasa Indonesia.

Tiga faktor yang menjaminn sukses bisnis adalah :

  1. Transformasi ekonomi di rantau ASEAN sejak zaman kolonial sampai sekarang berorientasi pada pembangunan (development).
  2. Status orang cina sebagai etnis Tionghoa dan imigran (pendatang)
  3. Organisasi sosial dan nilai-nilai yang dibawa oleh mereka.

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang berjudul Keberadaan Etnis Tionghoa di Indonesia” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. makalah ini disusun sebagai tugas untuk mata kuliah Sistem Sosial Indonesia.

Keberhasilan penulis dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini, sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Banda Aceh, 20 Maret 2011

DAFTAR ISI

ABSTRAK………………………………………………………………………………………   1

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………… 2

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………… …   4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang……………………………………………………………………………..5

1.2  Rumusan masalah…………………………………………………………………………..6

BAB II

2.1 Tinjauan pustaka……………………………………………………………………………7

2.2 Landasan teoritis……………………………………………………………………………8

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Etnis Tionghoa masih tidak bisa diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia…………9

3.2 Pemikiran politik minoritas tionghoa di Indonesia………………………………………..11

3.3 Kerusuhan rasial yang terjadi terhadap warga tionghoa  di Indonesia……………………15

3.4 Sumbangsih warga tionghoa bagi Indonesia………………………………………………21

3.5 Sukses dalam bisnis………………………………………………………………………..23

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan……………………………………………………………………………………26

Saran.………………………………………………………………………………………….28

Daftar pustaka…………………………………………………………………………………29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Di Indonesia yang poli-etnis, yang terdiri dari banyak suku, budaya dan bahasa mampu membentuk identitas nasional yang merekatkan warganya ke dalam satu kepentingan bersama. Namun, Indonesia juga harus akomodatif terhadap para imigran yang datang dengan model pluralisme budaya di dunia lama, meski masih menunjukkan beberapa persoalan identitas dan pengakuan terhadap kehadiran mereka. Dan yang paling menonjol pada permasalahan ini adalah pengakuan terhadap etnis-nation Tionghoa, meskipun kehadiran etnis ini sudah berabad-abad lalu dan (seharusnya) sudah terintegrasi dalam multinational state, Indonesia.

Masyarakat etnis Cina/Tionghoa sebenarnya sudah hadir berabad-abad lalu. Mereka melebur manjadi ‘warga setempat’ yang memiliki pasang-surut sejarah panjang, meski tak selalu mulus. Sebab, adalah suatu fakta sejarah yang tak terbantah, bahwa warga etnis Cina adalah pendatang (terlepas dari kenyataan bahwa kedatangannya terjadi berabad-abad lampau, sehingga keberadaannya bukan lagi hal baru). Fakta sejarah ini tak bisa dihapus dan harus diterima sebagai bagian integral kehidupan orang Cina di Indonesia.Etnis Tionghoa harus diterima secara legowo untuk membangun kembali Indonesia, karena mereka sudah merupakan bagian integral bangsa Indonesia. Mereka mempunyai jaringan perdagangan di Asia Tenggara dan potensi ini harus dimanfaatkan sebaiknya demi kemajuan bangsa dan negara.

Untuk itu, kita harus bersama-sama menghilangkan prasangka dan memberikan kesempatan kepada etnis Tionghoa berpartisipasi penuh dalam masyarakat Indonesia. Sebaliknya, etnis Tionghoa juga harus lebih terbuka dan bersedia terjun ke dalam arus utama bangsa Indonesia; menghilangkan prasangka dan sikap eksklusif yang dapat menimbulkan stereotip negatif di masyarakat; menjauhi praktek suap-menyuap dalam berbisnis, menunjukkan empati dan solidaritas kepada rakyat kecil yang kurang mampu. Demi kemajuan bangsa dan negara dan tentunya juga demi kebaikan etnis Tionghoa sendiri.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Mengapa etnis tionghoa masih tidak bisa diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia?

Bagaimana pemikiran politik minoritas tionghoa di Indonesia?

Kerusuhan rasial apakah yang terjadi terhadap warga tionghoa  di Indonesia?

Apa saja sumbangsih warga tionghoa bagi Indonesia?

Bagaima mereka sukses dalam bisnis?

BAB II

2.1 Tinjauan Pustaka

Pada umumnya, aktivitas yang dilakukan oleh etnis Tionghoa adalah aktivitas yang berkaitan dengan perdagangan. Banyak faktor yang menentukan etnis Cina menjadi pedagang di Medan, termasuk latar belakangnya. Beberapa buku yang menjadi telaah pustaka dalam makalah ini sebagai karangka berfikir bagi penulis adalah: Buku karangan Junifer Cush Man yang berjudul, perubahan identitas orang China di Asia Tenggara, menggambarkan proses dari kelompok etnis China di berbagai Negara menjadi orang yang berkebangsaan Negara yang mereka tempati. Salah satu syarat yang disebutkan oleh Cush Man adalah proses alami, dimana seseorang menjadi warga Negara tersebut dikarenakan umur dia atau leluhur seseorang tersebut tinggal di Negara yang ditempati saat itu, sudah tergolong lama.

Leo Surya Dinata yang berjudul Etnis Tionghoa di Indonesia, menguraikan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat etnis China di Indonesia. Buku ini menjelaskan daerah-daerah di Indonesia yang golongan etnis Cina sangat besar, salah satunya adalah kota Medan. masyarakat China adalah masyarakat pedagang sejak 1000 tahun yang lalu di Medan.  Buku yang berjudul Elite Etnis China di Indonesia dan Masa Transisi Kerdekaan 1930-1950 karangan Twang Pech Yang, menjelaskan proses bisnis yang dijalankan oleh etnis China di Indonesia berjalan dengan mulus. Banyak orang-orang kaya di Indonesia adalah orang China yang aktivitasnya adalah sebagai pelaku bisnis di Indonesia. Salah satu daerah yang paling menarik untuk orang Cina dalam melakukan aktivitasnya adalah kota Medan. Di kota Medan sejak masa sebelum kemerdekaan sampai masa sekarang ini telah banyak orang China yang meraih sukses sebagai pebisnis. Hal ini tidak terhindar dari kebiasaan kelompok etnis tersebut yang dalam bidang perdagangan.

 

2.2 Landasan Teoritis

MAX WEBER

Max Weber, seorang sosiolog Jerman yang dikenal membahas bagaimana sebetulnya etika Konghucuisme menghambat timbulnya Kapitalisme di negera Tiongkok. Menurut Weber, yang paling menonjol dalam Konghucuisme adalah tujuan hidup seorang Konghucuisme, yaitu menjadi seorang berbudaya dalam arti moral Konghucuisme. Selain itu, konghucuisme juga menitikberatkan harmoni antara manusia dan alam memperoleh pemilikan tanah, tetapi memandang rendah kepada aktifitas ekonomi tidak ada ketegangan antara alam dan dewa-dewa atau tidak adanya permintaan dari Tuhan kepada Hambanya untuk mencari keuntungan.

Thomas Harming Suwarta mengatakan Peristiwa Mei 1998 menorehkan catatan hitam dalam perjalananan bangsa ini. Kita menyaksikan sebuah negara yang ‘hilang’ lantaran liarnya anak bangsa, tetapi terutama karena hari-hari mencekam di antara 13-15 Mei itu, terjadi aksi brutal terhadap sama saudara kita, yang kita sebut sebagai anak keturunan atau peranakan Tionghoa.

Limlingan mengatakan bahwa tidaklah benar bahwa etnis Tionghoa mendapat tunjangan kapital besar dari luar. Mereka sebetulnya hanya bermodal “tenaga” jadi, sukses orang Tionghoa dalam bidang ekonomi, menurut Limlingan, terletak pada faktor-faktor kebudayaan (yaitu konghucuisme) dan ras. Dia menyebutkan kepatuhan terhadap penguasa, mengutamakan hamoni,sifat kekeluargaan, dan rasa hormat terhadap yang lebih senior dan sebagainya.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1

Hubungan Negara (Pemerintah) di Indonesia dan minoritas Tionghoa sangat erat dan  kebijakan pemerintah dalam taraf yang tinggi menentukan wajah masyarakat itu sendiri. Peran etnis  Tionghoa juga telah dipengaruhi, kalau bukan ditentukan, oleh Negara.

Kebijakan pemerintah kolonial dan Negara Indonesia merdeka memberikan dampak besar terhadap peran ekonomi minoritas tionghoa di Indonesia. Orang Tionghoa sebagai satu kelompok etnis menjadi semakin kuat dalam bidang ekonomi setelah Indonesia merdeka. Namun ini tidak berarti bahwa mereka menguasai ekonomi Negara Indonesia. Di Zaman colonial, Belanda dan Negara Barat yang menguasai ekonomi Indonesia dan setelah merdeka, bentuk BUMN ( Badan Usaha Milik Negara) dan MNC ( Multi National Corporation) lah yang menguasai ekonomi Indonesia. Elite politik pribumi dan elite ekonomi nonpribumi juga berpengaruh besar. Akan tetapi mayoritas Tionghoa tidak bisa digolongkan dalam kelas yang sama. Namun, tidak disangkal sebagai satu keompok peran ekonomi mereka dalam bidang perdagangan dan keuangan  sangat dominan.

Mengenai identitas etnis, pemerintah kolonial telah melestarikan keterpisahan orang Tionghoa dgn pribumi. Sedangakan pemerintah Indonesia berusaha mengindonesiakan orang Tionghoa melalui banyak cara. Kebijakan menghentikan masuknya imigran Tionghoa baru dengan sendirinya membuat kelompok Tionghoa diIndonesia makin bersifat Indonesia.

Kebijakan-kebijakan yang berbau asimilasi juga telah membuat anak totok Tionghoa menjadi peranakan dan peranakan menjadi lebih Indonesia. Namun kebijakan yang menyalurkan orang Tionghoa ke bidang ekonomi, pembedaan antara pribumi dan nonpribumi penandaan kartu tanda penduduk telah melestarikan identitas etnis orng Tionghoa. Pluralisme agama yang dijamin oleh pancasila juga membuat orang Tionghoa bisa mempertahankan identitas etnisnya.  Sebetulnya, masalahnya tidak terletak pada identitas etnis. Konsep bangsa Indonesia yang berdasarkan ras dan pribumi itu yang perlu ditinjau kembali.

Minoritas Tionghoa di Indonesia sering dianggap sebagai kelompok yang homogen, padahal ini adalah kelompok yang heterogen. Namun, sebagai minoritas orang Tionghoa di Indonesia  masih sangat kentara. Secara kebudayaan, peranakan Tionghoa bukan totok telah cukup berbaur akan tetapi mereka masih tidak diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Hal ini karena bangsa Indonesia diartikan oleh Negara secara sempit. Hanya pribumi yang bisa diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Padahal pada masa lalu, banyak pemimpin Indonesia yang pribumi berpendapat bahwa konsep bangsa itu adalah konsep budaya dan politik bukan ras. Pada tahun 1963 Sukarno pernah mencetuskan konsep bangsa Indonesia yang majemuk. Ia mengatakan bahwa Bangsa Indonesia terdiri atas banyak suku, jawa, sunda, batak dan suku peranakan Tionghoa. Sayangnya konsep semacam ini telah dicampakkan oleh pemerintah Orde Baru. Konsep bangsa yang realistis merupakan salah satu kunci pemecahan masalah Tionghoa dibumi Garuda. Masalah tersebut juga terdapat aspek ekonominya dan sistem ekonomi yang adil penting dalam penyelesaian masalah tersebut. Namun masalah identitas ini penting dalam penyelesaian masalah tersebut. Namun masalah identitas ini penting untuk diselesaikan. Masalah identitas kini lebih kompleks dan lebih sukar untuk diselesaikan karena banyak faktor baru yang harus diperhitungkan bangkitnya etnisitas diseluruh dunia dan kebangkitan RRC sebagai kekuatan ekonomi.  Kedua faktor ini mungkin akan memperlambat proses integrasi orang TiongHoa di Indonesia. Namun, untuk memupuk situasi yang lebih kondusif untuk membangun ekonomi dan memelihara kestabilan social dan politik sebagai langkah pertama yang positif pemerintah perlu mengambil semua peraturan yang bersifat diskriminatif.

3.2

Peninjauan sejarah pemikiran politik minoritas Tionghoa di Indonesia menunjukkkan bahwa persepsi orang Tionghoa tentang posisi mereka di Indonesia pun berubah sesuai dengan perubahan masyarakat  Tionghoa dan tuntutan zaman.  Pada masa kolonial di Indonesia terdapat tiga orientasi sosiopolitis yang berorientasi ke Negara china, yang percaya bahwa orang Tionghoa lokal adalah anggota bangsa China, mereka berorientasi ke Hindia  Belanda yang memahami posisi mereka sebagai kawula Belanda sambil melanjutkan kehidupan sebagai Tionghoa lokal adalah anggota bangsa Cina, mereka berontasi ke Hindia Belanda, yang memahami posisi mereka sebagai kawula belanda sambil melanjutkan kehidupan sebagai Tionghoa peranakan, dan mereka yang menyebut diri sebagai warga bangsa Indonesia  yang akan datang. Sebagian besar pemimpin Tionghoa di masa kolonial Indonesia, khususnya para impian baru (totok), berorientasi ke Negara China, tetapi kelompok yang kedua dan ketiga kebanyakan terdiri dari orang Tionghoa peranakan.

Masalah orientasi dan sikap politis terhadap kolonialisme yang memenuhi pikiran masyarakat Tionghoa sebelum perang dunia II dan isu tentang ’’integrasi’’ tidak tampak sebagai persoalan besar. Walaupn demikian, setelah Indonesia merdeka kaum minoritas Tionghoa mulai di tahap dengan masalah ‘’integrasi nasional’’ .orang tionghoa totok pada umumnya tetap menganggap dirinya sebagai bagian dari bangsa Cina, sedangkan Tionghoa peranakan terbagi menjadi golongan ‘’integrasionis’’ dan ‘’asimilasionis’’. Kelompok pertama lebih suka bila identitas tionghoa peranakan tetap dipertahankan dalam bangsa Indonesia, sedangkan kelompok  kedua mengiginkan peleburan kaum minoritas Tionghoa ke dalam mayarakat etnis pribumi.

Sebagian besar ‘’integrasionis’’ berpendapat bahwa asimilasi total dari Tionghoa peranakan ke dalam bangsa Indonesia hanya dapat terjadi kalau Indonesia menjadi Negara sosialis di mana ‘’tak ada penghisapan manusia atas manusia. Kalau mayarakat semacam itu belum terwujud, mereka ingin tetap menjadi Tionghoa tetapi berinteraksi. Mereka ingin tetap menjadi Tionghoa tetapi berinteragsi dalam partai politik yang revolusioner  para pemimpin radikal. Orang modern memandang diri mereka sebagai warga bangsa Indonesia, tetapi ingin tetap menjadi peranakan Tionghoa tanpa terlibat dalam pergerakan revolusioner. Walaupun pandangan itu sama-sama memiliki konsep kebangaan Indonesia yang nonrasial.

Turunnya Soeharto dan naiknya Habibie memberikan kesempatan kepada berbagai kekuatan etnis. Diantara orang-orang  Tionghoa masalah identitas timbul kembali. Pendekatan mendirikan partai politik Tionghoa tidak menjadi persoalan lagi. Namun rupanya sebagian besar tokoh Tionghoa peranakan ingin mengambil jalan asimilasi dengan partai dan kelompok pribumi, sementara ada sekelompok genersi muda yang ingi menghidupkan kembali partai Tionghoa. Walaupun demikian, identitas etnik Tionghoa ( atau lebih tepatnya lagi peranakan Tionghoa) masih tepatnya selama pemerintahan orde Baru, masyarakat Tionghoa di Indonesia telah mengalami proses peranakanisasi dan Indonesianisasi karena kebijakan asimilasi yang diambil oleh Suharto. Dengan kata lain walaupun identitas Tionghoa masih bertahan, kompenen totoknya masih berkurang masih berkurang. Salah satu kunci dari penyelesaian masalah Tionghoa diIndonesia tidak saja terletak pada sistem ekonomi yang adil dan merata, tetapi sama pentingnya adlah konsep bangsa Indonesia yang keta atau (rigid), yaitu konsep bangsa pribumi merupakan suatu rintangan besar untuk masuknya orang Tionghoa terutama peranakan Tionghoa, kedalam wadah bangsa Indonesia.  

Umumnya negara (state) di Asia Tenggara dibagi atas dua jenis : negara pribumi (indigenous state) dan negara imigran (immigrant state). Indonesia sebagai negara pribumi berbeda dari negara imigran. Konsep bangsa dalam kedua negara ini pun berbeda. Yang pertama lebih berdasarkan ethno-nation (bangsa berdasarkan rasa tau etnis), sedangkan yang kedua pada social-nation (bangsa yang berdasarkan multiras atau multietnis).

Sebenarnya konsep bangsa Indonesia juga bukan berdasarkan ethno-nation, karena Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa. Namun dalam masalah Tionghoa, konsep bangsa itu lebih dekat dengan ethno-nation, karena yang dititikberatkan adalah kepribumiannya. Dalam arti, konsep bangsa Indonesia lebih berdasarkan pada ras atau etnis. Orang Tionghoa harus terlebur kedalam tubuh pribumi Indonesia, yaitu menjadi pribumi, (atau salah satu suku pribumi) barulah orang itu menjadi bangsa Indonesia yang lengkap. Seseorang yang masih memiliki unsur-unsur asing, biarpun unsur-unsur itu sangat sedikit, masih dianggap sebagai orang asing. Jadi, orang Tionghoa yang peranakan dan sudah menjadi warga negara Indonesia (WNI) masih belum menjadi bangsa Indonesia yang lengkap. Konsep warga negara dibedakan dengan konsep bangsa, demikian pula hak-hak mereka. Slogan Binneka Tunggal Ika hanya berlaku untuk Indonesia pribumi, tetapi tidak pada orang Tionghoa.

Sebetulnya konsep Bangsa Indonesia lahir sebelum perang dunia II. Sejak bangkitnya pergerakan nasional Indonesia, konsep Bangsa Indonesia didominasi oleh konsep yang berbau ras. Konsep Bangsa Indonesia yang berdasarkan konsep budaya-politik yang mulai timbul sebelum perang dunia II yang dicetuskan oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo, Dr. Raden Sutomo dan Mr. Amir Sjafruddin, merupakan pendapat minoritas di kalangan pribumi.

Sesudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, konsep bangsa yang lebih modern ini pun dianut oleh segelintir tokoh politik Indonesia. Drs Mohammad Hatta, misalnya memberi batasan bangsa Indonesia dalam arti politik : seorang demokrat sejati yang berwarga negara Indonesia tanpa melihat keturunannya. Namun rupanya konsep Hatta ini tidak banyak penganutnya. Soekarno juga pernah mengembangkan konsep bangsa Indonesia yang modern. Pada tahun 1963 ketika ia memberikan pidato dalam kongres Baperki, ia menekankan bahwa Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, yaitu suku Jawa, suku Batak, suku Minang, dan suku peranakan Tionghoa.

Biarpun kemudian Baperki mengambil alih konsep suku peranakan Tionghoa, sebetulnya gagasan ini adalah ide Sukarno. Baperki tadinya hanya bicara tentang suku Tionghoa, atau terjemahan dalam bahasa China “Huazu”. Huazu adalah etnis Tionghoa, tidak ada konotasi kebudayaan tetapi keturunan. Tetapi peranakan Tionghoa mempunyai indikasi kebudayaan local dan Tionghoa yang terbanyak di Pulau Jawa termasuk golongan peranakan. Jika konsep ini bisa diterima, maka orang Tionghoa sudah menjadi sebagian dari Bangsa Indonesia. Sebetulnya lima tokoh peranakan Tionghoa telah ikut serta dalam penyiapan kemerdekaan Indonesia yang dipimpin Sukarno dan Hatta 57 tahun yang lalu.

 

 

 

3.3

Kerusuhan-kerusuhan yang menimpa etnis Tionghoa antara lain pembunuhan massal di Jawa 1946-1948, peristiwa rasialis 10 Mei 1963 di Bandung, 5 Agustus 1973 di Jakarta, Malari 1974 di Jakarta, Kerusuhan Mei 1998 di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Solo ,dll. serta berbagai kerusuhan rasial lainnya.

Beberapa contoh kerusuhan rasial yang terjadi yaitu :

Bandung, 10 Mei 1963 Kerusuhan anti suku peranakan Tionghoa terbesar di Jawa Barat. Awalnya, terjadi keributan di kampus Institut Teknologi Bandung antara mahasiswa pribumi dan non-pribumi. Keributan berubah menjadi kerusuhan yang menjalar ke mana-mana, bahkan ke kota-kota lain seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.

Pekalongan, 31 Desember 1972 Terjadi keributan antara orang-orang Arab dan peranakan Tionghoa. Awalnya, perkelahian yang berujung terbunuhnya seorang pemuda Tionghoa. Keributan terjadi saat acara pemakaman.

Palu, 27 Juni 1973 Sekelompok pemuda menghancurkan toko Tionghoa. Kerusuhan muncul karena pemilik toko itu memakai kertas yang bertuliskan huruf Arab sebagai pembungkus dagangan.

Bandung, 5 Agustus 1973 Dimulai dari serempetan sebuah gerobak dengan mobil yang berbuntut perkelahian. Kebetulan penumpang mobil orang-orang Tionghoa. Akhirnya, kerusuhan meledak di mana-mana.

Ujungpandang, April 1980 Suharti, seorang pembantu rumah-tangga meninggal mendadak. Kemudian beredar desas-desus: Ia mati karena dianiaya majikannya seorang Tionghoa. Kerusuhan rasial meledak. Ratusan rumah dan toko milik suku peranakan Tionghoa dirusak.

Medan, 12 April 1980 Sekelompok mahasiswa USU bersepeda motor keliling kota, sambil memekikkan teriakan anti suku peranakan Tionghoa. Kerusuhan itu bermula dari perkelahian.

Solo, 20 November 1980 Kerusuhan melanda kota Solo dan merembet ke kota-kota lain di Jawa Tengah. Bermula dari perkelahian pelajar Sekolah Guru Olahraga, antara Pipit Supriyadi dan Kicak, seorang pemuda suku peranakan TiongHoa. Perkelahian itu berubah menjadi perusakan dan pembakaran toko-toko milik orang-orang TiongHoa.

Surabaya, September 1986 Pembantu rumah tangga dianiaya oleh majikannya suku peranakan TiongHoa. Kejadian itu memancing kemarahan masyarakat Surabaya. Mereka melempari mobil dan toko-toko milik orang-orang TiongHoa.

Pekalongan, 24 November 1995 Yoe Sing Yung, pedagang kelontong, menyobek kitab suci Alquran. Akibat ulah penderita gangguan jiwa itu, masyarakat marah dan menghancurkan toko-toko milik orang-orang Tiong Hoa.

Bandung, 14 Januari 1996 Massa mengamuk seusai pertunjukan musik Iwan Fals. Mereka melempari toko-toko milik orang-orang TiongHoa. Pemicunya, mereka kecewa tak bisa masuk pertunjukan karena tak punya karcis.

Rengasdengklok, 30 Januari 1997 Mula-mula ada seorang suku peranakan Tiong Hoa yang merasa terganggu suara beduk Subuh. Percekcokan terjadi. Masyarakat mengamuk, menghancurkan rumah dan toko TiongHoa.

Ujungpandang, 15 September 1997 Benny Karre, seorang keturunan Tiong Hoa dan pengidap penyakit jiwa, membacok seorang anak pribumi, kerusuhan meledak, toko-toko TiongHoa dibakar dan dihancurkan.

Februari 1998 Kraksaan, Donggala, Sumbawa, Flores, Jatiwangi, Losari, Gebang, Pamanukan, Lombok, Rantauprapat, Aeknabara: Januari – Anti Tionghua

Kerusuhan Mei 1998 Salah satu contoh kerusuhan rasial yang paling dikenang masyarakat Tionghoa Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998.

Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa  terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Solo. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang terbunuh, terluka, mengalami pelecehan seksual, penderitaan fisik dan batin serta banyak warga keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia.

Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama besar yang dianggap provokator kerusuhan Mei 1998. Bahkan pemerintah mengeluarkan pernyataan berkontradiksi dengan fakta yang sebenarnya yang terjadi dengan mengatakan sama sekali tidak ada pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Tionghoa disebabkan tidak ada bukti-bukti konkret tentang pemerkosaan tersebut.

Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya orang setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian orang-orang tersebut.

5-8 Mei 1998 Medan, Belawan, Pulobrayan, Lubuk-Pakam, Perbaungan, Tebing-Tinggi, Pematang-Siantar, Tanjungmorawa, Pantailabu, Galang, Pagarmerbau, Beringin, Batangkuis, Percut Sei Tuan: Ketidakpuasan politik yang berkembang jadi anti Tionghoa.

Jakarta, 13-14 Mei 1998 Kemarahan massa akibat penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang dikembangkan oleh kelompok politik tertentu jadi kerusuhan anti Cina. Peristiwa ini merupakan persitiwa anti Cina paling besar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sejumlah perempuan keturunan Tionghoa diperkosa.

Solo, 14 Mei 1998 Ketidakpuasan politik yang kemudian digerakkan oleh kelompok politik tertentu menjadi kerusuhan anti Tionghua.

  Peristiwa Mei 1998 menorehkan catatan hitam dalam perjalananan bangsa ini. Bukan saja karena hari-hari mencekam itu, kita menyaksikan sebuah negara yang ‘hilang’ lantaran liarnya anak bangsa, tetapi terutama karena hari-hari mencekam di antara 13-15 Mei itu, terjadi aksi brutal terhadap sama saudara kita, yang kita sebut sebagai anak keturunan atau peranakan Tionghoa.

Aksi perampasan dan perampokkan terhadap toko-toko dan rumah-rumah mereka terjadi secara sangat liar dan mengerikan. Seolah para perusuh belum puas dengan itu semua, tidak sedikit  anak keturunan Tionghoa ini yang diperkosa, secara sangat membabi-buta. Mereka seperti serigala yang rakus, haus dan tamak.

Pasti, tidak ada harga yang pantas untuk membayar segenap kekerasan yang terjadi pada hari-hari yang mencekam itu. Tanpa ada salah, tanpa sebab apa pun, mereka toh dijadikan bulan-bulanan sesama anak bangsa sendiri. Sedikit pun, tidak ada pretensi untuk membuka kembali luka lama ini.

Ini adalah sebuah usaha memperpanjang ingatan kita dan bersedia mempertanggung jawabkannya. Ada bahaya bahwa kita meninggalkannya seolah-olah sekedar catatan sejarah yang berlalu begitu saja. Merawat ingatan menjadi sesuatu yang penting, bukan untuk terus menguber-uber luka, tetapi menjadikannya cermin, di mana kita bisa berkaca dan belajar untuk tidak mengulanginya lagi.

Ketika kita merayakan kemerdekaan, kemerdekaan apakah yang betul-betul kita harapkan dan impi-impikan? Kemerdekaan untuk siapa dan seperti apa yang hendak kita rayakan? Peristiwa Mei ’98, terutama dalam konteks kekerasan rasial terhadap etnis Tionghoa menjadi titik berangkat refleksi, karena pada titik itulah momen di mana, sebagian anak bangsa ini, diperlakukan dengan sangat tidak adil. Mereka-mereka yang justru dijajah di tanah airnya sendiri, oleh sama saudara sebangsanya. Memang, ia sudah lewat hampir 11 tahun, dan sebagian dari kita mungkin merasa, sudah tidak ada lagi cerita-cerita lama itu.

Semua anak bangsa sekarang diperlakukan sama, tanpa ada lagi diskriminasi, barang sedikit pun. Atau jangan-jangan ini menjadi semacam apologi atau pembelaan saja? Pernahkah kita melakukan refleksi yang sungguh-sungguh jujur dan tulus atas peristiwa tragis Mei ’98 itu? Bagaimana kita mesti mempertanggungjawabkannya pada generasi sekarang dan di masa depan?

Jika alam kebebasan itu sudah diberikan, pada sisi mana itu sungguh-sungguh dialami oleh saudara-suara kita etnis Tionghoa? Tahun demi tahun berlalu, apakah pernah kita mengevaluasi, apa yang kita sebut dengan mempertanggungjawabkan ingatan kita akan peristiwa Mei ’98 itu?
Memang saatnya bukan untuk meratapi semua yang terjadi, tetapi bagaimana dengan ingatan kita yang tetap terawat itu mampu mengantar kita pada suatu cita-cita kemanusiaan bersama, tanpa ada lagi pembedaan, diskriminasi, saling curiga, selain daripada komitemen bersama sebagai anak bangsa untuk Indonesia yang satu dan sama ini.

Inilah salah satu pertanggungjawaban kita atas kisah sejarah kelam itu. Indonesia yang beragam; multi etnik, muti agama, suku dan budaya, yang tidak menjadikan keberagaman sebagai sekat yang memisahkan, tetapi simpul-simpul yang bisa saling menguatkan, menjadi

pertanggungjawaban kita untuk generasi sekarang dan di masa depan. Apa yang kita pertanggungjawabkan adalah Keindonesiaan. Biarkan ia berdiri kokoh kuat, tegar berjuang di antara keberagaman yang ada. Identitas kita adalah identitas sebuah bangsa.

Hal yang sama berlaku untuk saudara-saudara kita etnis Tionghoa, yang kini tengah beranjak dari keterpurukan dan trauma masa lalu, untuk membangun kembali mimpinya di tanah air Indonesia bersama 200 juta penduduk Indonesia lainnya di tanah air. Tidak kurang peran dan keterlibatan mereka untuk bangsa ini.

3.4.

Didirikannya sekolah-sekolah Tionghoa oleh organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) sejak 1900, mendorong berkembangnya pers dan sastra Melayu Tionghoa. Maka dalam waktu 70 tahun telah dihasilkan sekitar 3000 buku, suatu prestasi yang luar biasa bila dibandingkan dengan sastra yang dihasilkan oleh angkatan pujangga baru, angkatan 45, 66 dan pasca 66 yang tidak seproduktif itu. Dengan demikian komunitas ini telah berjasa dalam membentuk satu awal perkembangan bahasa Indonesia.

Sumbangsih warga Tionghoa Indonesia juga terlihat dalam koran Sin Po, dimana koran Sin Po menjadi koran pertama yang menerbitkan teks lagu Indonesia Raya setelah disepakati pada Sumpah Pemuda tahun 1928.

Nama Sie Kok Liong memang sangat jarang didengar oleh masyarakat Indonesia, namun Sie Kok Liong merupakan seorang warga Tionghoa yang menyewakan rumahnya bagi para pemuda dalam menyelenggarakan Sumpah Pemuda. Hanya sedikit catatan mengenai Sie Kok Liong, seiring dengan tumbuhnya sekolah-sekolah pada awal abad ke-20 di Jakarta tumbuh pula pondokan-pondokan pelajar untuk menampung mereka yang tidak tertampung di asrama sekolah atau untuk mereka yang ingin hidup lebih bebas di luar asrama yang ketat. Salah satu di antara pondokan pelajar itu adalah Gedung Kramat 106 milik Sie Kok Liong. Di Gedung Kramat 106 inilah sejumlah pemuda pergerakan dan pelajar sering berkumpul. Gedung itu, selain menjadi tempat tinggal dan sering digunakan sebagai tempat latihan kesenian Langen Siswo juga sering dipakai untuk tempat diskusi tentang politik para pemuda dan pelajar. Terlebih lagi setelah Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) didirikan pada September 1926. Selain dijadikan kantor PPPI dan kantor redaksi majalah Indonesia Raya yang diterbitkan oleh PPPI, berbagai organisasi pemuda sering menggunakan gedung ini sebagai tempat kongres. Bahkan pada 1928 Gedung Kramat 106 jadi salah satu tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda II tanggal 27 – 28 Oktober 1928.

Universitas Trisakti yang kini menjadi salah satu universitas terkenal di Indonesia juga merupakan salah satu sumbangsih warga Tionghoa di Indonesia. Pada tahun 1958, universitas ini didirikan oleh para petinggi Baperki yang kebanyakan keturunan Tionghoa salah satunya yaitu Siauw Giok Tjhan, pada tahun 1962 oleh Presiden Soekarno nama universitas ini diganti menjadi Universitas Res Publika hingga 1965, dan sejak Orde Baru, universitas ini beralih nama menjadi Universitas Trisakti hingga sekarang.

Di Medan dikenal kedermawanan Tjong A Fie, rasa hormatnya terhadap Sultan Deli Makmun Al Rasyid diwujudkannya pengusaha Tionghoa ini dengan menyumbang sepertiga dari pembangunan Mesjid Raya Medan. Rumah peninggalan Tjong A Fie sampai sekarang masih ada di kota Medan walaupun bangunannya terlihat tidak terurus lagi.

Di Bagansiapiapi terdapat festival atau upacara bakar tongkang sebagai ucapan rasa syukur masyarakat Tionghoa Bagansiapapi atas perlindungan Dewa Ki Ong Ya. Upacara bakar tongkang sangat diandalkan pemerintah daerah setempat sebagai daya tarik wisata daerah dimana setiap tahunnya menyedot puluhan ribu kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Saat ini di Taman Mini Indonesia Indah sedang dibangun taman budaya Tionghoa Indonesia yang diprakarsai oleh PSMTI. Pembangunan taman ini direncanakan akan selesai sebelum tahun 2012 dengan biaya kurang lebih 50 milyar rupiah.

3.5

Konghucuisme merupakan suatu ajaran besar yang berkaitan dengan Konghucu atau Kong Zi yang lahir pada tahun 551 SM. Ajaran ini sebetulnya merupakan filosofi hidup, membahas moral yang harus dimiliki pribadi dan masyarakat. Ajaran Konghucu menitikberatkan tatasusila dan tatanegara, bukan keagamaan. Tetapi di Indonesia konhucu telah berkembang menjadi Agama.

Pada hakikatnya, Konghucuisme adalah ajaran politik yang elitis. Elite itulah yang berwewenag untuk memerintah karena mereka bukan saja lebih pintar tetapi juga lebih bermoral ketimbang rakyat  jelata. Konsep ni juga tercermin dalam stratifikasi social Konghucuisme.

Max Weber, seorang sosiolog Jerman yang dikenal membahas bagaimana sebetulnya etika Konghucuisme menghambat timbulnya Kapitalisme di negera Tiongkok. Menurut Weber, yang paling menonjol dalam Konghucuisme adalah tujuan hidup seorang Konghucuisme, yaitu menjadi seorang berbudaya dalam arti moral Konghucuisme. Selain itu, konghucuisme juga menitikberatkan harmoni antara manusia dan alam memperoleh pemilikan tanah, tetapi memandang rendah kepada aktifitas ekonomi tidak ada ketegangan antara alam dan dewa-dewa atau tidak adanya permintaan dari Tuhan kepada Hambanya untuk mencari keuntungan.

Menurut Weber, orang Cina tidak memiliki cara hidup yang terpusat, rasionalistis yang bersumber dari dalam, yang merupakan cici-ciri Puritan yang klasik. Bagi orang Cina, sukses Ekonomi bukan merupakan tujuan terakhir, tetapi semacam sarana untuk mengabdi Tuhan.

Teori – teori yang menyatakan bahwa orang tionghoa di asia tenggara sukses karena faktor-faktor berikut : kedudukan mereka sebagai golongan minoritas dan penduduk kota, profesi mereka sebagai pedagang sebelum mereka bermukim di Asia Tenggara, dan adanya tunjangan kapital besar dari luar negeri.

Dengan data yang terbatas, limlingan mengatakan bahwa teori-teori ini semua tidak benar. Ia menunjukkan bahwa orang india, yang juga minoritas di Asia tenggara, tidak sesukses orang Tionghoa di biang ekonomi. Ia juga menyatakan bahwa pedagang dan pengusaha tionghoa yang sukses itu bukan berasal dari kelas pedagang, melainkan dari kelas buru dan tani.

Tidaklah benar bahwa mereka mendapat tunjangan kapital besar dari luar. Mereka sebetulnya hanya bermodal “tenaga” jadi, sukses orang tionghoa dalam bidang ekonomi, menurut limlingan, terletak pada faktor-faktor kebudayaan (yaitu konghucuisme) dan ras. Dia menyebutkan kepatuhan terhadap penguasa, mengutamakan hamoni,sifat kekeluargaan, dan rasa hormat terhadap yang lebih senior dan seagainya. Keuayaan dan “ras Tionghoa” itu melahirkan straegi bisnis dan praktik manajemen yang unggul, yang akhirnya membawa mereka ke jalan kejayaan.

Menggunakan konsep dan istilah BusinessAdinistration, limlingan mencoba menjelaskan kebijakan bisnis (Business policy) di antara orang-orang Tionghoa. Tiga faktor yang menjaminn sukses bisnis adalah :

  1. Transformasi ekonomi di rantau ASEAN sejak zaman colonial sampai sekaang berorientasi pada pembangunan (develop ment).
  2. Status orang cina sebagai etnis Tionghoa dan imigran (pendatang)
  3. Organisasi social dan nilai-nilai yang dibawa oleh mereka.

Pembahasannnya dititik beratkan pada faktor kedua dan ketiga. Di sini, ia membicarakan bagaimana perusahaan dagangan Tionghoa beroperasi, dan bagaimana pula nilai dan organisasi ras Tionghoa digunakan sebagai tulang punggung ekonomi mereka. Jaringan etns (ras) dipakai sedemikian rupa sehingga berhasil mengalahkan lawannya. Selain para pedagang besar, muncul pula pengusaha-pengusaha (industrialis) Tionghoa yang sukses seperti Bangkok bank, liem Sioe Liong Group dan Astra Group.

 

 

 

 

                                                         

 

 

 

 

 

 

 

Bab IV

PENUTUP

Kesimpulan

Mengapa etnis Tionghoa masih belum diterima keberadaannya di Indonesia, yaitu dikarenakan Bangsa Indonesia yang seolah-olah merasa terjajah oleh etnis Tionghoa. Bangsa Indonesia ingin negara Indonesia ini dikuasai oleh penduduk pribumi. Namun, pemikiran seperti ini adalah keliru dikarenakan sebelum orde baru muncul pun, banyak pemimpin Indonesia yang pribumi berpendapat bahwa konsep bangsa yang seperti itu adalah konsep budaya dan politik bukan ras. Pada tahun 1963 Sukarno pernah mencetuskan konsep bangsa Indonesia yang majemuk. Ia mengatakan bahwa Bangsa Indonesia terdiri atas banyak suku, jawa, sunda, batak dan suku peranakan Tionghoa. Sayangnya konsep semacam ini telah dicampakkan oleh pemerintah Orde Baru.

 Peninjauan sejarah pemikiran politik minoritas Tionghoa di Indonesia menunjukkkan bahwa persepsi orang Tionghoa tentang posisi mereka di Indonesia pun berubah sesuai dengan perubahan masyarakat  Tionghoa dan tuntutan zaman.

Masalah orientasi dan sikap politis terhadap kolonialisme yang memenuhi pikiran masyarakat tionghoa sebelum perang dunia II dan isu tentang ’’integrasi’’ tidak tampak sebagai personal besar.walaupn demkian, setelah Indonesia merdeka kaum minoritas tionghoa mulai di tahap dengan masalah ‘’integrasi nasional’’ .orang tionghoa totok pada umumnya tetap menganggap diri sebagai bagian dari bangsa cina, sedangkan tionghoa peranakan terbagi menjadi golongan ‘’integrasionis’’ dan ‘’asimilasionis’’.

Kerusuhan-kerusuhan yang menimpa etnis Tionghoa antara lain pembunuhan massal di Jawa 1946-1948, peristiwa rasialis 10 Mei 1963 di Bandung, 5 Agustus 1973 di Jakarta, Malari 1974 di Jakarta, Kerusuhan Mei 1998 di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Solo ,dll. serta berbagai kerusuhan rasial lainnya.

Beberapa contoh kerusuhan rasial yang terjadi yaitu :

Bandung, 10 Mei 1963, Pekalongan, 31 Desember 1972, Bandung, 5 Agustus 1973,   Ujungpandang, April 1980,

Didirikannya sekolah-sekolah Tionghoa oleh organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) sejak 1900, mendorong berkembangnya pers dan sastra Melayu Tionghoa. Maka dalam waktu 70 tahun telah dihasilkan sekitar 3000 buku, suatu prestasi yang luar biasa bila dibandingkan dengan sastra yang dihasilkan oleh angkatan pujangga baru, angkatan 45, 66 dan pasca 66 yang tidak seproduktif itu. Dengan demikian komunitas ini telah berjasa dalam membentuk satu awal.

Nama Sie Kok Liong memang sangat jarang didengar oleh masyarakat Indonesia, namun Sie Kok Liong merupakan seorang warga Tionghoa yang menyewakan rumahnya bagi para pemuda dalam menyelenggarakan Sumpah Pemudaperkembangan bahasa Indonesia.

Universitas Trisakti yang kini menjadi salah satu universitas terkenal di Indonesia juga merupakan salah satu sumbangsih warga Tionghoa di Indonesia.

 

SARAN

  • Masyarakat Indonesia harus dapat bersikap lebih baik kepada etnis-etnis lain selama mereka tidak menjajah Negara kita.
  • Menghindari adanya kerusuhan dan bersikap positif kepada setiap etnis yang masuk,
  • Dapat mengikuti bagaimana majunya orang Tionghoa, serta
  • Dapat mengikuti etnis Tionghoa bagaimana meraih sukses dalam bisnisnya sehingga Indonesia tidak kalah di negaranya sendiri.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Suryadinata, Leo. 2002. “ Negara dan etnis tionghoa.”Jakarta: pustaka LP3ESSS Indonesia.

http://kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Kontribusi+Etnis+Tionghoa+untuk+Indonesia&dn=20090811093020

http://masadmasrur.blog.co.uk/2008/05/31/pengakuan-terhadap-keberadaan-etnis-cina-4249874/

http://ratualit.blogspot.com/2009/01/menengok-sejarah-etnis-tionghoa-di.html

About Admin

Jangan Bicara Bukti, Biar Bukti yang Berbicara

Posted on April 20, 2011, in makalah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: