Agama sebagai candu masyarakat


Disatu sudut pandang saya setuju atas teori yang dikemukakan oleh Karl Marx. Bahwa agama hanyalah tempat pelarian dari permasalahan hidup. Ketika seseorang mengalami banyak masalah seperti kemiskinan, ketidakberdayaan, kesengsaraan, maka dia akan mencari suatu kekuatan yang dianggapnya dapat menolongnya dari permasalahan hidupnya. Kekuatan tersebut dipercaya dapat membantunya memberikan solusi atas masalah yang dihadapi. Demikian anggapan yang ada pada sebagian masyarakat. Agama memang pantas disebut sebagai candu masyarakat karena seperti candu, ia memberikan harapan-harapan semu, dapat membantu orang untuk sementara waktu melupakan masalah kenyataan hidupnya. Seorang yang sedang terbius oleh candu dengan sendirinya akan lupa dengan diri dan masalah yang sedang dihadapinya. Ketika orang sedang masuk dalam penderitaan yang dibutuhkan tidak lain adalah candu yang dapat membantu melupakan segala penderitaan hidup, bahwa hanya sesaat saja. Dalam konteks ini orang memang membutuhkan ilusi-ilusi untuk meringankan penderitaan dalam dunia nyata. Agama berkembang karena diwartakan oleh masyarakat yang mempunyai kekuasaan atau oleh masyarakat yang mempunyai kekuasaan atau oleh masyarakat yang didukung oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan itu. Agama tidak berkembang karena ada kesadaran dari manusia akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena ada kesadaran dari manusia akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena kondisi yang diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Propaganda agama yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dipandang oleh Marx sebagai sikap meracuni masyarakat.

Tetapi disudut pandang lainnya saya tidak setuju. Karena agama bukanlah tentang Tuhan yang secara sewenang-wenang menyuruh manusia untuk patuh dan taat kepada-Nya, namun tentang pulihnya kesadaran. Dalam diri manusia akan perjalanan hidupnya, dari makhluk yang terperangkap dalam batas-batas ruang dan waktu menjadi yang mensemesta.Pola pemaknaan agama yang terlalu teosentris akan menjadikan Tuhan itu terasa sebagai Tuhan yang harus dipatuhi dan ditaati. Misi agama adalah tentang bagaimana manusia mengisi atau membentuk eksistensinya secara konkret di alam raya ini.

“Religion has its genesis in the essential difference between man and the animal. The animals have no religion”. Jawaban yang paling umum dan paling berhubungan dengan pernyataan ini adalah kesadaran. Menurut kesadaran adalah kesanggupan untuk merenungkan cara bereksistensinya, modus kehidupannya. Dan kesanggupan itu berarti bahwa manusia bisa bertanggung jawab atas  pembentukan caranya  bereksistensi, caranya menjalani hidup. Manakala kesadaran itu sedemikian terbatas, dan karena keterbatasannya itu berwatak tegas dan tepat, yang sedang kita bicarakan itu sebenarnya bukanlah kesadaran, namun naluri. Jadi salah apabila agama disebut candu masyarakat.

About Admin

Jangan Bicara Bukti, Biar Bukti yang Berbicara

Posted on April 20, 2011, in artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: